Jurnaldunia.com - Saya yakin, sebagian besar pembaca menikmati dan suka dengan 'kehidupan'
di Twitter. Di samping banyaknya aplikasi sehingga memudahkan untuk
ngetweet, di dunia ini juga banyak informasi yang bisa didapat secara cepat dan padat, tanpa bertele-tele.
Namun, tahukah pembaca sekalian bahwa ada sisi gelap yang mungkin tidak Anda sadari?
Nah,
berbicara soal kebaikan dan kegunaan Twitter jelas ada banyak yang bisa
disebutkan dan 99% dari Anda juga menyadari hal itu. Jika masih belum
menyadari dan merasakan manfaat serta kebaikan Twitter namun tetap
menggunakan, mungkin saja sedang dihipnotis atau hanya menuruti wejangan
dari Eyang Subur.
Lalu akan menjadi lain masalahnya untuk
menyebutkan atau menyadari bahwa ada sisi gelap dari Twitter. Sebagian
dari Anda juga akan sontak berteriak, '
APA? TWITTER PUNYA SISI GELAP?! INI BECANDA KAN?!'
Iya. Sebagaimana layaknya layanan umum lainnya, Twitter juga memiliki celah dan sebagian dari itu berwujud buruk.
Hasil
dari beberapa riset kecil menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna
Twitter ternyata mudah percaya dengan sebuah tweet. Sehingga hal ini
dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan
menyebarkan berita bohong.
Banyak kasus yang telah terjadi
sebenarnya dapat diambil hikmahnya terkait dengan level kepercayaan kita
terhadap tweet. Tentu saja kita masih ingat dengan banyaknya berita
palsu terutama saat terjadi bencana baik di dalam maupun luar negeri.
Atau
berita tentang wafatnya seorang artis padahal hanya dirawat di rumah
sakit. Dan berita-berita lainnya yang diciptakan untuk memuaskan hasrat
ngerjain.
Efek
yang dihasilkan dari berita palsu ini memang bermacam-macam. Berita
kematian palsu efeknya mungkin tidak seberapa yaitu sekadar sakit
hatinya
fans dan keluarga, misalnya.
Namun efek dari
berita palsu juga dapat mengakibatkan lenyapnya uang senilai USD 200
miliar Amerika dari Bursa Efek New York sebagaimana yang terjadi kemarin
akibat berita palsu dari sebuah akun terverifikasi Associated Press
lantaran dibajak.
Dampak dari mudahnya kita percaya pada satu
tweet memang tidak secara langsung bersifat individual. Namun ada hal
lain yang ruang lingkup dampaknya adalah perseorangan namun merata dan
bukan sesuatu yang sepele.
Dulu, Twitter belum memiliki fitur realtime pada timeline baik via website maupun aplikasi
3rd party. Hal ini menghadirkan jeda dan pengguna harus melakukan refresh pada timeline untuk mendapatkan tweet terbaru.
Jeda
yang hadir saat itu bukan semata-mata karena kemauan atau kontrol
pengguna melainkan oleh karena desain dari Twitter sudah seperti itu.
Namun jeda itu sudah tak ada lagi sejak API versi baru yang mampu
streaming timeline secara cepat. Dan sejak saat itu, timeline seperti
yang kita lihat saat ini datang secara realtime.
Apa yang Anda
tweet pada detik itu juga akan muncul di timeline orang-orang yang
mengikuti Anda. Tak ada jeda walau sedetik. Di sisi lain cepatnya
informasi yang datang membuat kita menjadi tahu akan informasi baru dari
berbagai sumber tanpa perlu menunggu, seperti pada portal berita
misalnya.
Namun, informasi yang datang bertubi-tubi dengan berbagai macam topik juga menghadirkan perkara lain.
Di
dunia yang serba cepat dan pendek ini, otak menjadi kehilangan
kemampuan yang penting dan sejak dulu mampu menghadirkan banyak inovasi
maupun penemuan. Dan hal tersebut adalah
deep thought, pemikiran mendalam.
Sejak
hadirnya internet sebenarnya kebiasaan otak kita sedikit ataupun banyak
telah berubah, sebagaimana dituturkan oleh Nicholas Carr dalam bukunya
The Shallows.
Dari menyimpan banyak ilmu dalam otak menjadi
mengandalkan Google dan Wikipedia sebagai gudang ilmu dan rujukan. Dan
dari berpikir mendalam pasca membaca buku menjadi berselancar di antara
tautan-tautan dalam browser dengan pemahaman ala kadarnya.
Era
dan dunia Twitter semakin mengokohkan kebiasaan ini dengan sifatnya yang
realtime dan pendek. Dua hal yang saling melengkapi dalam rangka
menghilangkan dan menyingkirkan kebiasaan baik untuk otak dan ilmu
pengetahuan.
Pendeknya tulisan membuat kita menjadi cepat
menyimpulkan sesuatu sebagaimana menciptakannya. Sementara cepatnya
informasi baru yang masuk dan tanpa jeda tidak memberikan kesempatan
kepada otak untuk berpikir lebih dalam.
Twitter bukanlah
satu-satunya penyebab. Karena ada banyak layanan lain yang juga memiliki
peran yang kurang lebih sama, baik berupa forum, portal berita, maupun
yang lain.
Twitter dan layanan lain memang mempunyai kemampuan
luar biasa untuk dimanfaatkan untuk hal-hal baik. Dan sudah menjadi
tugas pengguna untuk dapat memilah dan memanfaatkan kebaikan dan manfaat
dari semua layanan tersebut dengan tetap berusaha sadar dan tidak
terjebak dalam hal negatif yang dibawanya.