Bahkan dengan maraknya konflik tersebut diduga akibat dari ulah operasi intelejen asing yang bermain di Papua.
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI (Kabais TNI), Mayjen Purnawirawan TNI M. Luthfie W mengatakan, dugaan ikut campurnya intelejen asing dalam setiap konflik di Papua sulit dibuktikan.
"Sebenarnya kalau itu (peran intelejen asing) kita sulit membaca secara kongkret. Kebanyakan operasi ini kan mengarah kepada kepentingan. Kita lihat kepentingan Amerika terhadap Freeport itu kan sangat besar," ujar Luthfie di Jakarta, Jumat (11/11/2011).
Meski begitu, Luthfie mengakui jika keberadaan perusahaan-perusahaan asing di Papua cukup membawa dampak, karena banyaknya kepentingan dari perusahaan tersebut.
Untuk itu, dirinya menyarankan agar pemerintah khususnya aparat melakukan penyelesaian konflik ini dengan cara-cara yang halus dan tanpa ada kekerasan.
"Kalau kita lihat begini, satu kepentingan Freeport. Kedua ini kan ada kepentingan elit politik juga kan. Sehingga pendekatanya harus pendekatan hati. Ini persoalannya diangkat ke atas semua, ini orang-orang Papua jangan dilihat bodoh-bodoh, mereka juga pinter-pintar. di Swiss itu, kalau ada sidang HAM selalu ada orang-orang Papua," pungkasnya.

0 komentar:
Posting Komentar