Mereka kabur karena kondisi penjara yang memprihatinkan. "Anda bisa melihat sendiri, langit-langit ruang tahanan sudah lapuk sehingga mudah untuk dijebol. Di balik langit-langit itu pun tidak ada barikade besi melintang, melainkan langsung ke genteng. Kami sebenarnya sudah berencana merenovasi ruang tahanan itu, tetapi keduluan mereka," kata Kepala Polsek Warungkiara Ajun Komisaris Slamet Irianto, Selasa, di kantornya.
Ruang tahanan berukuran sekitar 4 meter x 4 meter itu memiliki langit-langit berbahan tripleks dan berdipan susunan balok kayu. Saat didatangi, ada dua balok kayu melintang bertumpu pada dinding. Di atas balok tersebut ada lubang dengan panjang sekitar 40 sentimeter, yang diduga menjadi awal pelarian dua tahanan itu.
Pintu besi sel juga terlihat keropos di bagian bawah. Jendela di bagian atas dinding dibatasi dengan terali besi dan kasa nyamuk. Bersebelahan dengan sel adalah toilet untuk tahanan. Ada lubang menganga di dinding toilet itu.
Slamet mengatakan, lubang di toilet itu rencananya dijadikan pintu sehingga tahanan tidak perlu memutar.
Ruang tahanan itu sebenarnya berbatasan dinding dengan ruangan Kepala Unit Bimbingan Masyarakat. Ruangan Unit Reserse dan Kriminal pun masih satu atap dengan ruang tahanan.
Pengawasan terhadap tahanan, menurut Slamet, dilakukan satu jam sekali. Saat kedua tahanan kabur, konsentrasi petugas sedang mengarah pada acara pemilihan kepala desa dan pengamanan tawuran.
"Mereka kabur pada Minggu petang lalu. Saat ini kami masih melakukan pengejaran. Tahanan kami hanya mereka berdua, yaitu Edi Suryadi alias Jumad bin Santibi (34) dan Nandi alias Eeng bin Nana (23), warga Warungkiara. Mereka mencuri besi tiga tiang saluran udara tegangan tinggi pada Agustus lalu dan ditahan pada 15 Oktober," kata Slamet.

0 komentar:
Posting Komentar