.

Abraham Samad, Anak Kolong yang Kini Pimpin KPK

Jumat, Desember 02, 2011

jurnaldunia.com - Dr ABRAHAM Samad terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011-2016.
Abraham, mengaku tak menyangka bisa terpilih jadi pimpinan KPK, bahkan justru menjadi ketua lembaga pemberantasan korupsi, menggantikan Busyro Muqaddas, ketua KPK saat ini.
"Saya sampai mencubit dadaku, apa betul ini saya yang dipilih, serasa tidak percaya," katanya sekitar 20 menit, setelah Komisi III DPR RI memilihnya menjadi ketua, Jumat (2/12/2011) petang.
Siapa sebenarnya Abraham, tak banyak terungkap ke publik, selain berprofesi sebagai aktivis hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, juga Koordinator Anti Corruption Committe (ACC) Sulsel sejak 1999 hingga 2011.
Abraham lahir pada 27 November 1966. Usianya kini 44 tahun. Dia adalah anak "kolong", seorang anak perwira menengah tentara TNI, almarhum TNI pejuang, Andi Samad. Ibunya adalah Hajjah Sitti Maryam.
"Saya ini anak kolong, anak tentara. Almarhum bapak saya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang," kata Abraham, kepada Tribun, menyampaikan rasa terima kasih kepada orangtuanya atas amanah ini.
Abraham, sekitar 20 menit setelah dia terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Periode 2011-2015.
Meski besar dari keluarga yang taat beribadah dan ketat dalam budaya dan tradisi Bugis-Makassar, masa sekolah menengah Abraham justru dihabiskan di sekolah SMA Katolik Cenderawasih, Makassar.
"Bapak tentara, saya itu amat disiplin, jadi disekolahkan di dekat asrama," kata Abraham, pria oleh teman-teman sepermainannya akrab disapa Openg ini.
Abraham kecil menghabiskan masa remaja di barak tentara, di sebelah barat Kota Makassar. Asrama TNI Cenderwasih dan Mattoanging.
Pertengahan dekade 1990-an saat masih aktif di LBH dan beracara, dia menikah dengan Indriani Kartika, yang juga alumnus Fakultas Sastra Unhas.
Abraham adalah alumnus Fakultas Hukum Unhas angkatan 1987, dan pernah menjadi Ketua Senat Fakultas Hukum Unhas.
Istrinya adalah putri Brigjen (Purn) Juritno, mantan Bupati Mamuju, saat masih bergabung dengan Sulsel.
Bapak mertuanya, terakhir menjadi pati di Markas Besar TNI AD. Sejak tahun 1997, Abraham aktif melakukan advokasi dan pembelaan hukum.
Melalui organisasi ACC yang didirikan oleh Asmar Oemar Saleh, seorang praktisi hukum. Abraham lalu menjadi koordinator, setelah Asmar diangkat menjadi staf ahli di Kementerian Hukum dan HAM.
Di sela-sela berpraktik hukum, tahun 1998, Abraham sempat masuk menjadi salah salah seorang perintis Partai Amanat Nasional (PAN) bersama praktisi hukum dan akademisi Makassar.
Dia juga sempat jadi calon anggota legislatif dari PAN untuk DPRD Provinsi Sulsel. Tahun 2004, Abraham juga coba bertarung untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan masuk 8 besar dari 4 yang terpilih.
Sehari-hari, Abraham menjadi praktisi hukum. Dia berkantor di salah satu ruangan Rumah Sakit Islam Faizal, yayasan kesehatan milik keuarga Kalla.
Dia jadi konsultan hukum rumah sakit ini. Istrinya, yang merupakan sarjana sastra Prancis Unhas, juga membuka butik Indria, di depan rumah mertuanya di Jl Mappala, Makassar.
Berlatar belakang aktivis kampus, mantan ketua Senat Fakultas Hukum dan ketua BEM Universitas di Unhas, Abraham termasuk dekat dengan aktivis dan pejuang kebebasan pers.
Saat ada wartawan atau jurnalis yang mendapat gugatan dengan narasumber, Abraham selalu berada di depan untuk memberikan pembelaan.
Saat koalisi jurnalis Makassar digugat Kapolda Sulsel Irjen Pol Sisno Adi Winoto, Abraham masuk salah satu tim pembela dan memberi kesaksian.
Abraham juga kerap beberapa kali membongkar kasus-kasus korupsi kakap yang melibatkan pejabat Sulsel, baik eksekutif dan legislatif.
Abraham mulai menjadi perhatian, media setelah menjadi pembela beberapa terdakwa Bom Makassar, Kaharuddin dan Muhtar Dg Lau, dan pernah ikut membela terdakwa teroris Agus Dwikarna, yang ditangkap dan masih ditahan pemerintah Philipina tanpa pengadilan jelas.
Dalam keseharian, Abraham banyak membaca buku-buku perjuangan dan tokoh pejuang. "Dari pejuang, saya belajar nilai dan semangat serta cara mencapai tujuan," katanya.
Buku para pemikir Muslim Sunni Syiah, juga masih sempat di luangkan dibacanya. Bahkan, saking terobsesinya dengan para pejuang negara-negara tertindas, seperti Palestina, dia menamai anak tertuanya lelakinya dengan M Yassin Rantisi Ravsanjani.
"Yassin Rantisi itu, inspirator pejuang Palestina, semangatnya untuk memberi keadilan dan meperjuangkan hak rakyat begitu dikenang, setidaknya semangatnya bisa dimiliki anak saya," kata Abraham.
Anak keduanya, adalah Natashya Abraham, masih sekolah di SD kelas 1. Sedangkan Yassin sekolah di SD Al Azhar, Makassar.
Abraham kuliah program magister hukum mulai tahun 2000.
Dia pun kemudian melanjutkan studi hingga doktor di Unhas, dengan penelitian lembaga pemberantasan korupsi di Malaysia.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright jurnaldunia.com Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan 2011-2013 | Design by Bagus F | Support by Bagus International Corporation