Itulah yang dikatakan Karjadli Karsoud yang meminta agar istrinya, Samik, disuntik mati saja. Pria 69 tahun itu tak tega melihat istrinya bakal kesakitan saat penyakitnya kambuh karena dia tak mampu membayar biaya pengobatan kanker payudara yang diderita istrinya.
"Itu memang ucapan suami saya kemarin yang sedang kesal dan emosi karena biaya pengobatan penyakit saya tak gratis lagi. Dia juga kesal karena permohonan jamkesda saya ditolak. Dia capek mondar-mandir mengurus jamkesda saya. Dia tak tega melihat saya sakit," kata Samik kepada wartawan di rumahnya, Jalan Pesapen Barat XII/29A, Jumat (9/12/2011).
Atas ucapan suaminya itu, Samik pun mengingatkan Soud. Bahkan Samik sempat sedikit cekcok dengan Soud agar dia tak mengucapkan kata-kata itu lagi. Samik sendiri hanya membayangkan rasa sakit seperti apa yang akan dialaminya pasca pengangkatan payudara kanannya karena kanker pada bulan April lalu.
"Setahun lalu saya periksa ke puskesmas karena ada benjolan yang kalau disentuh terasa sakit pada payudara kanan saya," lanjut Samik.
Oleh puskesmas saya disuruh membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) agar bisa berobat gratis ke RSU dr Soetomo. Singkat cerita, Samik harus menjalani 6 kali kemoterapi karena kankernya sudah pada tahap stadium 3. Usai kemoterapi, pada April lalu payudara kanan Samik diangkat.
"Kata dokter, setelah diangkat saya tetap harus menjalani pengobatan termasuk disinar (laser) sebanyak 25 kali," terang perempuan 45 tahun itu.
Setelah operasi pengangkatan, Samik harus terus mengkonsumsi obat. Selama itu, Samik juga harus menahan sakit jika penyakitnya itu kambuh. "kalau kondisi saya drop, badan ini panas dingin, lemas dan rasanya sakit dan nyeri sekali pada dada ini," jelas ibu 3 anak tersebut.
Kemarin, seharusnya Samik harus menjalani penyinaran. Tetapi begitu mengetahui jika biaya pengobatan tak gratis lagi, Samik mundur.
"Padahal sebelumnya badan saya sudah digambar untuk menentukan titik-titik penyinaran. Bagaimana saya bisa bayar, satu kali sinar harus membayar sekitar Rp 190 an. padahal sinar harus dilakukan tiap hari selama 25 kali," lanjut perempuan asli Lamongan itu.
Bukannya tanpa usaha, Samik berusaha mengurus jamkesda agar pengobatannya bisa gratis lagi. Namun saat datang ke RSI jemursari untuk mengurus jamkesda, pihak RSI Jemursari belum berani menerbitkan jamkesda dengan alasan menunggu persetujuan pihak RSU dr Soetomo. Apakah Samik tidak mencoba ke 3 rumah sakit yang disarankan walikota Surabaya, Tri Rismaharini?
"Suami saya yang pernah berobat ke Al Irsyad saja langsung dirujuk ke RSU dr Soetomo, apalagi saya. Lagi pula apakah Al Irsyad punya alat kemoterapi dan sinar," jawab Samik pesimis.
Dan memang benar, RS Al Irsyad yang jaraknya paling dekat dengan rumah Samik memang tak mampu menangani pasien yang membutuhkan pengobatan kemoterapi.
"Ada beberapa jenis penyakit yang tidak mampu, seperti bedah saraf yang besar kita tidak mampu. Untuk perawatan seperti kemoterapi kita tidak bisa," kata Kepala Bagian Rawat Jalan RS Al Irsyad, dr Aris Rusdi.
Samik sendiri hanya berharap agar walikota bisa lebih arif persoalan pengobatan bagi pasien miskin bisa gratis lagi. "Selama belum gratis, saya akan menghentikan pengobatan ini karena saya tidak mampu bayar," tandas Samik.

0 komentar:
Posting Komentar