Peringatan Hari Penyandang Cacat Dunia itu dipusatkan di Plasa Sriwedari, depan Taman Sriwedari. Mengenakan seragam Pramuka, para siswa berbaris rapi di city walk. Ada yang duduk di kursi roda, ada pula yang duduk lesehan beralaskan tikar. Para anak-anak difabel tersebut berasal siswa SLB Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Solo. Suasana semakin meriah saat tarik tambang yang menjadi lomba pembuka dimulai.
Wahyu Widianto, salah seorang difabel yang mengalami lumpuh kaki langsung menawarkan diri menjadi peserta lomba. Siswa kelas IV SD YPAC ini lantas diadu dengan Nanda, rekannya yang sebaya. Kedua orang tadi langsung memegang ujung kain sepanjang sekitar 3 meter yang digunakan sebagai tambang. Mereka lantas mengambil ancang-ancang di sisi timur dan barat. "Satu.. dua. tiga. mulai," kata sang wasit lomba memberi aba-aba.
Duduk di kursi, Wahyu dan Nanda kemudian beradu kekuatan tangan dengan saling tarik kain tadi kuat-kuat. Brukkk. tiba-tiba Wahyu yang berada disebelah barat terjatuh tersungkur dari kursi rodanya. Rupanya tarikan Nanda yang kuat membuatnya terpelanting. "Ndak sakit kok. Ini pertama kalinya saya main tarik tambang. Biasanya cuma menonton," kata remaja 17 tahun ini. Ia lantas dibantu kembali naik ke kursi rodanya. Beruntung ia tak mengalami luka sedikit pun.
Meski terjatuh, Wahyu tetap ngotot minta lomba tadi diulang. Tepuk tangan penonton pun langsung mengiringi permintaan Wahyu tersebut. Tak ingin membuatnya kecewa, wasit lomba pun mengijinkan. Namun sayaat lomba kedua itu Wahyu kalah. Meski kalah, ia tetap mendapatkan hadiah. "Isinya (hadiah) kacang. Saya puas hari ini bisa main tarik tambang," katanya lagi menggunakan nada bicara lantang.
Selain lomba tarik tambang, anak-anak difabel tersebut juga mengikuti lomba lainnya yakni makan kerupuk dan balap kelereng. Sugiyan, guru SLB YPAC mengatakan, kegiatan peringatan Hari Penyandang Cacat Dunia itu sekaligus untuk memberikan motivasi kepada anak-anak penyandang difabel. Bahwa meski secara fisik mereka memang tak sempurna, namun hal itu tak menjadi halangan untuk mengejar cita-cita. Sebab, dalam kegiatan itu anak-anak difabel yang berpretasi juga hadir untuk menjadi inspirasi.
"Kami ingin mengajak anak-anak bahwa cacat bukan menjadi halangan. Jangan sampai menyerah, mereka juga bisa berprestasi," kata Sugiyan. Doa dan harapan anak-anak tersebut mereka ungkapkan lewat tulisan dalam selembar poster yang dipasang diatas sandaran kursi roda. Beberapa tulisan tersebut berbunyi "Cacat bukan halangan untuk berprestasi", "Jangan berikan kami ikan, kail lebih berarti", atau "Terima kami apa adanya".
Sugiyan melanjutkan, momen Hari Penyandang Cacat Internasional tersebut juga harus menjadi titik awal masyarakat tak menyandang sebelah mata kaum di fabel. Sebab, selama ini kaum difabel masih sering mengalami diskriminasi. Terlebih sarana umum yang ramah bagi para difabel masih sangat minim. ""Seperti di Solo grand mall, jalurnya terlalu curam. Malah berbahaya bagi pengguna kursi roda. Pemkot harus serius dalam penerapan Peraturan Daerah (Perda) No 2/2008 tentang Kesetaraan Difabel," katanya

0 komentar:
Posting Komentar