Di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat misalnya. Rohim menyebutkan, ranjau paku biasanya ditebar pada pagi, siang, dan sore hari. Cara penyebarannya pun relatif sederhana. Pelaku biasanya menggunakan bungkusan korek api yang sudah diisi oleh paku berukuran tiga sampai empat centimeter. Bungkusan tersebut, lanjut Rohim, disebar oleh pengguna kendaraan bermotor juga.
“Saat kendaraan dibelakangnya agak sepi. Barulah bungkusan korek api berisi paku dibuang ke jalan,” kata Rohim. Ketika bungkusan berisi paku tersebut terlindas mobil atau motor maka isinya pun akan terpencar. Bungkus korek api yang berisi puluhan paku pun akhirnya menyebar ke badan jalan.
“Kadang ranjau paku dibungkus dengan kantong plastik hitam,” tutur Rohim. Ia menambahkan, ranjau paku yang disebar memiliki jenis berbeda antarwilayah. Kalau di kawasan Jakarta Barat, umumnya pelaku menggunakan paku.
Sementara di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Timur, ranjau terbuat dari potongan besi payung. Rangka payung yang terdiri dari besi, terang Rohim, dipotong-potong kecil menjadi seukuran paku atau tusuk gigi. “Jenis ini yang berbahaya, karena mobil dan ban tubles pun bisa kena,” tuturnya. Cara penyebaran pun tidak jauh berbeda dengan di kawasan Jakarta Barat.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Jakarta Pusat AKBP Budiyanto mengatakan untuk mencegah penyebaran ranjau paku, setiap hari pihaknya menerjunkan 100 petugas. “Kami berpatroli dari pagi sampai malam hari,” kata Budiyanto saat dihubungi Tempo.
Polisi juga menyebar satuan reserse,polisi tanpa seragam, dan petugas yang berpatroli dengan kendaraan roda dua di lapangan. “Kami coba optimalkan patroli di jalanan,” tandas Budiyanto.

0 komentar:
Posting Komentar