"Kursinya nomor 29A, paling belakang, dekat jendela," kata David, staf Joko yang selalu menemaninya bepergian. David yang sudah menjadi staf Jokowi, panggilan Joko Widodo, selama lebih dari lima tahun, mengatakan bosnya memilih tempat terbelakang agar bisa cepat keluar setelah pesawat mendarat.
Jokowi, kata David, tak mau naik kelas eksekutif. Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini memilih terbang bersama penumpang kelas ekonomi. Jokowi pun tak melulu naik Garuda yang harga tiketnya biasa dijual di atas maskapai lain. "Ya tergantung kebutuhan. Kadang pakai Sriwijaya," kata David.
Menurut David, Jokowi tetap mengantri bersampa penumpang lain sebelum naik pesawat. Meskipun, waktu menunggunya tak terlalu lama. Jokowi juga tak pernah menggunakan fasilitas ruang tunggu eksekutif meski memiliki voucher.
Jokowi mengaku mulai membeli tiket kelas ekonomi sejak menjadi wali kota. "Waktu jadi pengusaha sih selalu beli tiket eksekutif," katanya.
Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini merasa nyaman duduk di bagian paling belakang pesawat. Ia justru malu berada di kelas eksekutif. "Saya malu dilihatin orang-orang," katanya.
Ia membenarkan dengan duduk di kursi terbelakang bisa langsung keluar jika pesawat sudah mendarat. "Kalau pintu belakang dibuka, kan tak perlu antri. Rasanya seperti ekonomi rasa eksekutif," katanya. Kalau pintu belakang tak dibuka? "Ya keluarnya paling belakang," katanya disertai tawa.
Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)

0 komentar:
Posting Komentar