Namun menurut Pengamat Perminyakan, Kurtubi, pemerintah tidak perlu repot melakukan pembatasan dan tidak perlu panik apabila kuota jebol jika menuruti sarannya, apa saja?
Pertama, saran Kurtubi, pemerintah harus efisien, efisiennya dari mana, misalnya efisien di sektor migas, apa yang diefisienkan, salah satunya pengelolaan cost recovery.
"Bayangkan cost recovery angkanya melonjak tahun ini dianggarkan US$ 15,33 miliar sesuai permintaan BP Migas dari awal tahun sekitar US$ 12 miliar, tapi masalahnya sudah cost recovery naik tetapi produksi minyak diturunkan dari 950.000 barel per hari (bph) menjadi 930.000 bph, apa-apaan ini, ini sudah terlihat pemborosan," kata Kurtubi, Rabu (11/4/2012).
Saran kedua, kata Kurtubi, berusaha meningkatkan produksi minyak. Produksi minyak Indonesia terus turun saat ini malah dibawah 900.000 barel.
"Kalau turun penerimaan negara berkurang, impor minyak tambah. Nah saran ketiga, ya efisienkan impor minyak," ujarnya.
Keempat menurutnya adalah menaikan royalti perusahaan tambang dari yang sampai masih 1% dinaikan sesuai ketentuan Peraturan Presiden yakni 3,75%.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)

0 komentar:
Posting Komentar