Batu yang diserahkan dari RSM Cicendo ke Badan Geologi pun menyimpulkan bahwa kondisi kristal yang memiliki ukuran 1-2 mm itu bukan benda yang terbentuk secara alami. Dan itu adalah material sintetik yang telah diproses.
"Batu itu bisa ditemui di pasaran, yang bebas diperjualbelikan," kata Sekretaris Badan Geologi, Yunus Kusumatbrata di RSM Cicendo Bandung, Selasa (5/5).
Biasanya batu itu, lanjut Yunus, digunakan untuk perhiasan-perhiasan baju dan lainnya. "Jadi batu yang dihasilkan (Tina) bukan proses alami. Kalau alami biasanya punya kekerasan antara 7-8, tapi ini lunak paling kekerasannya cuma 3-4, sama dengan yang diperjualbelikan," ujarnya.
Kecurigaan lain pun dapat dilihat dari bentuk batu kristal Tina rapih dan terukir. "Kristal yang diperiksa merupakan material sintetik yang telah diproses, bentuknya rapih, " tandasnya.
Hal senada pun diungkapkan Direktur Utama Pusat Mata Nasional, Kautsar Busaeri. Dia menyebut bahwa material air mata kristal tersebut tidak pernah dijumpai dalam ilmu kedokteran.
"Jadi itu bukan merupakan hasil produksi tubuh manusia," terangnya.
Seperti diketahui Tina Agustina warga Sumedang Jawa Barat, dapat mengeluarkan air mata mirip kristal. Sudah ratusan dikeluarkan dari kedua matanya.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar