Tak akan kurang gizi
Dibanding dengan diet, puasa pada bulan Ramadhan tak akan mengakibatkan kurang atau terjadinya ketidakseimbangan gizi karena tak ada pembatasan atau pengurangan makanan berlebihan baik pada sahur dan berbuka.
Ini dibuktikan oleh MM Husaini, ahli medis dari Afrika, yang melakukan penelitian pada tahun 1974 terhadap mahasiswa Muslim di Universitas North Dakota dan Universitas Fargo sepanjang Ramadhan. Dia menyimpulkan bahwa kalori yang dikonsumsi mahasiswa Muslim sepanjang Ramadhan masih dua pertiga NCR-RDA. Karena itu masih dalam batas normal. Jika terjadi perubahan pada berat badan dan gula darah tak terlalu signifikan.
Perlahan dan terencana
Puasa pada bulan Ramadhan meski wajib dalam agama merupakan kegiatan yang diserahkan pada orang masing-masing. Berbeda dengan orang yang memang diwajibkan untuk puasa oleh dokter misalnya. Di dalam otak, ada pusat yang disebut lipostat. Fungsinya mengontrol berat badan. Jika terjadi berat badan turun drastis akibat diet berlebihan, lipostat tak dapat mengenalinya secara normal. Oleh karena pusat dalam otak itu memprogram kembali dirinya untuk memacu menambah berat badan saat orang berhenti makan.
Karena itu cara paling aman dan efektif mengurangi berat badan adalah perlahan dan terencana. Harus ada kontrol diri yang baik. Caranya adalah dengan mengatur dan memotivasi diri dan mengubah cara makan. Makan boleh dikurangi tapi sewajarnya. Nah itu sudah dengan sendirinya terjadi pada Ramadhan. Kontrol diri dan latihan sudah terkondisikan dengan sendirinya. Sehingga perubahan yang terjadi tak terlalu drastis. Itu terbaca oleh lipostat.
Puasa Ramadhan berbeda dari puasa lain
Dalam Islam tak ada keterikatan harus menjalani diet pada jenis makanan tertentu saja seperti diet protein, buah tertentu dan lain sebagainya. Islam mengajarkan makan sahur pada dini hari dan berbuka pada malam hari selama puasa. Artinya, saat puasa porsi makan dikurangi sedikit. Juga ada ajaran mengonsumsi dulu makanan yang manis seperti kurma, buah atau jus saat buka puasa untuk mengatasi rendahnya kadar gula darah. Setelah tak ada makanan yagn masuk maka menjelang buka puasa, kadar gula dalam darah berada pada titik terendah. Makanan manis dapat cepat diubah dan diserap jadi energi.
Bantu pencernaan
Adanya anjuran memperbanyak ibadah seperti shalat di waktu malam dapat membantu proses pencernaan makanan dan metabolisme dalam tubuh. Shalat merupakan kegiatan fisik. Secara langsung energi yang telah masuk akan dibakar kembali. Kalori yang dibakar pada shalat tarawih mencapai 200. Sebagaimana shalat lima waktu, kegiatan fisik dalam shalat melibatkan seluruh tubuh termasuk otot dan tulang belulang serta persendian. Ini bisa diklasifikasikan sebagai olahraga untuk memperkuat dan melatihnya.
Puasa Ramadhan adalah latihan mendisiplin diri
Bagi mereka yang terbiasa merokok, ngemil, atau penggemar kopi berat, puasa jadi sarana latihan menguranginya. Sebulan cukup panjang untuk bisa memetik hasil, mengubah kebiasaan.
Puasa juga memiliki efek psikologis
Orang yang menjalankannya umumnya merasakan damai dan tenang saat menjalankan puasa. Itu karena dalam puasa dianjurkan untuk menahan diri dari marah dan mengumpat atau mengatakan yang tak pantas. Sehingga saat Ramadhan, karena orang menahan marah, tak ada permusuhan.
Dampak lainnya adalah turunnya angka kejahatan. Bahkan ada yang dalam beberapa hari di awal Ramadhan sudah merasa dampaknya secara psikologis. Kendati kehilangan berat badan sedikit, orang itu mengaku bisa bekerja dan beribadah lebih tekun. Dia juga mengaku tak mengalami perubahan drastis dalam hal unsur kimia dalam darah. ''Saya merasa lebih sehat setiap habis Ramadhan.''
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar