Sejak beberapa tahun terakhir, sedikitnya ada sejumlah kasus penculikan dan penyanderaan WNI di luar negeri. Pelakunya berasal dari perompak hingga kelompok bersenjata peminta tebusan.
Berikut lima insiden penculikan dan penyanderaan :
Penyanderaan 20 ABK WNI di Somalia
20 WNI awak kapal KMV Sinar Kudus ditahan oleh perompak Somalia di Laut Arab pada April 2011 lalu. Mereka disekap selama 46 hari oleh 60-an perompak Somalia di dalam kapal milik PT Samudera Indonesia itu.
Indonesia mengirim tim dari TNI bernama Satgas Merah Putih untuk menyelamatkan mereka. Empat perompak berhasil ditembak mati. Sementara para WNI berhasil dibebaskan setelah uang tebusan diberikan pada perompak.
13 WNI Disandera di Somalia
Tak lama setelah kasus KMV Sinar Kudus, 13 Awak kapal asal Indonesia kembali menjadi korban penyanderaan oleh para perompak Somalia. Kali ini, mereka bekerja di kapal berbendera Singapura, MT Gemini dan dibajak di laut Tanzania.
Badan Maritim dan Pelabuhan Singapura mengatakan bahwa kapal MT Gemini dibajak sekitar 222 kilometer dari Dar es Salaam di Tanzania. Kapal berbobot mati 29.871 ton milik Glory Ship Management Pte Ltd tersebut membawa 28.000 ton minyak sawit mentah dari pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, menuju Mombasa, Kenya.
Pada Desember 2011, para ABK itu akhirnya dilepaskan. Termasuk ABK asal Indonesia.
Kapal MT Gemini berbendera Singapura itu membawa 28.000 ton minyak sawit mentah dari Indonesia ke Kenya dan dibajak 30 April lalu. Kapal itu membawa 13 ABK asal Indonesia, tiga warga negara Myanmar, lima orang asal China dan empat warga Korea Selatan.
WNI Pegawai PT Kimia Farma Diculik di Nigeria
Masadi, WNI pegawai perusahaan farmasi PT Kimia Farma diculik kelompok bersenjata pada tanggal 23 Oktober lalu di wilayah Kano, Nigeria Utara. Para penculik meminta uang tebusan sebesar USD 500 ribu atau sebesar Rp 4,5 M.
Meski sempat meminta tebusan, namun uang itu tak sampai ke tangan penculik. Kepolisian Nigeria lebih dulu melakukan operasi bersenjata.
Beberapa penculik tewas, sementara Masadi bisa bebas dengan kondisi selamat setelah ditinggalkan para penculik di hutan.
Penculikan Presenter Metro TV Meutya Hafid
Meutya Hafid, penyiar dan presenter Metro TV bersama rekannya kamerawan Budianto, disandera kelompok pejuang atau faksi Mujahidin Irak selama satu pekan, 15–22 Februari 2005.
Meutya disekap di sebuah gua kecil di tengah gurun pasir antara Kota Ramadi dan Fallujah. Selama hari-hari itu, dia diperlakukan bak seorang tawanan perang. Namun tak mengalami kekerasan.
Dia akhirnya dibebaskan setelah lewat proses negosiasi pemerintah. Meutya pun menuliskan pengalamannya ini dalam buku memoar '168 Jam dalam Sandera'.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar