.

Inilah 5 Alasan Tarif KRL Jabodetabek Tak Layak Naik

Senin, September 24, 2012


Ilustrasi. (Foto: Okezone)
Jurnaldunia.com - Rencana PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menaikkan tarif KRL mendapatkan penolakan. Rencananya, KCJ akan melakukan pemberlakukan kenaikan tarif KRL mulai 1 Oktober 2012.

Komunitas Pengguna KRL Jabodetabek (KRL-Mania) menegaskan menolak rencana kenaikan tarif KRL Jabodetabek. Berdasarkan keterangan tertulisnya di krlmania.com, Senin (24/9/2012), ada lima alasan penolakan kenaikan tarif itu.

Pertama, apa jaminan pelayanan yang diberikan? Kualitas pelayanan yang diinginkan penumpang itu sebenarnya sederhana. "Kami sering menyampaikan kepada KAI/KCJ poin-poin yang bisa ditingkatkan dengan mudah tanpa perlu biaya besar," jelas KRL Mania.

Misalnya, informasi gangguan perjalanan, informasi stasiun yang akan disinggahi, nama dan nomor urut kereta, pelayanan loket, lampu penerangan, toilet, fasilitas kesehatan, fasilitas kemudahan bagi penyandang cacat, wanita hamil, balita, orang sakit; lansia dan orang lanjut usia di kereta.

"Ini adalah poin-poin dari Permen Nomor 9 Tahun 2011 tentang SPM (Standar Pelayanan Minimum) yang telah disahkan satu setengah tahun yang lalu, namun operator selalu menghindar untuk menerapkannya. Semuanya lebih bersifat pelayanan yang manusiawi. Dari pengalaman, justru yang manusiawi ini dilupakan," jelas dia.

Kedua, ada unsur kebohongan publik pada klaim KCJ yang menyatakan bahwa tarif KRL tidak pernah naik selama tiga tahun terakhir. Faktanya, pada tahun 2011, ketika Commuter Line mulai dioperasikan, sudah ada kenaikan tarif dari Rp5.500 (Ekonomi AC) menjadi Rp7.000 (Commuter Line relasi Bogor-Jakarta Kota/Tanah Abang) atau Rp 6.000 (Commuter Line relasi Depok-Jakarta Kota/Tanah Abang).

Ketiga, sebelum tarif naik pun, KRL kelas ekonomi (bersubsidi) semakin dikurangi jadwalnya. Sementara KRL nonekonomi belum tentu AC-nya dinyalakan, atau mungkin dinyalakan tapi dalam kondisi rusak dan tidak diperbaiki, sehingga menyebabkan penumpang atap KRL (ataper) masih tetap eksis.

"Janji Menteri BUMN soal penanganan masalah ataper tidak terbukti. Bila tarif KRL nonekonomi dinaikkan lagi Oktober nanti, dikhawatirkan KRL ekonomi menjadi semakin penuh sesak (overload)," jelas dia.

Keempat, kebocoran pemasukan dari karcis masih terjadi, akibat oknum-oknum beratribut tertentu yang tidak diperiksa karcisnya. "Free riders belum diselesaikan. Seharusnya ini diselesaikan dulu daripada mencari solusi instan yang mengorbankan penumpang," jelas dia.

Terakhir, adanya pemborosan anggaran yang sudah terjadi pada pengadaan sistem Commet. Mesin-mesin e-Ticketing terbengkalai, belum berfungsi, malah ada yang sudah rusak.

Hal ini diperparah dengan dihapuskannya KTB/Abodemen yang diganti dengan Commet yang jumlahnya terbatas dan tidak jelas lagi keberlanjutannya. Ironisnya, tidak disediakannya kartu Commet tambahan malah membuat antrean pembeli karcis bertambah panjang.

"Kemudian kepada Pemerintah, perlu kami ingatkan bahwa dikhawatirkan akan ada penumpang KRL yang kembali mengendarai motor/mobil pribadi bila tarif KRL dinaikkan lagi," jelas dia.

(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)

HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan

Hubungi Marketing Kami :
  • Email  : info@jurnaldunia.com
  • HP      : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright jurnaldunia.com Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan 2011-2013 | Design by Bagus F | Support by Bagus International Corporation