Berikut ini kronologi yang dirangkum dari kesaksian Ketua RW 08, Deny Iskandar :
Pukul 05.00 : Petugas kepolisian berpakaian preman mendatangi rumah Deny meminta agar Deny tidak bekerja karena polisi akan menggerebek rumah di desa itu. Informasi awal dari kepolisian yang diterima Deny, penggerebekan terkait kasus narkoba.
Pukul 08.30 : Tim Densus tiba di desa sekitar 50 personel bersenjata lengkap dan dipimpin oleh Brigadir Jenderal Idham Aziz. Warga di kavling depan rumah yang akan digerebek langsung dievakuasi. Radius evakuasi mencapai 50 meter.
Pukul 09.00 : Tim Densus mulai masuk ke rumah terduga kelompok teroris yang menjadi target. Rumah itu terletak di sebuah kavling perumahan yang baru saja dibangun tahun 2011. Lokasinya sangat jauh dari keramaian kota. Di kavling mini ini, ada enam rumah yang dibangun berjejer dan saling berhadapan. Rumah yang menjadi incaran tim Densus berada di tengah-tengah. Di sekitar rumah itu, juga sudah terisi penghuni baru.
Pukul 09.15 : Tim Densus menginterogasi pemilik rumah, yakni kakak beradik, Intan dan Iqbal. Mereka ditanya perihal penghuni rumah yang ditarget Densus. Intan langsung menyahut bahwa rumah itu dikontrak oleh Anwar sekitar enam bulan lalu. Anwar tinggal bersama dua orang temannya yang tidak diketahui namanya. Anwar, disebut Intan, datang dibawa oleh Arif Hidayat (31) yang sudah lama menjadi penduduk di sana.
"Begitu mendengar nama Arif, polisi langsung bilang dia masuk dalam daftar yang ditemui di Beji. Saya nggak ngerti maksudnya apa, tapi polisi langsung gerak mau nangkap Arif," kata Deny. Namun, Deny menolak. Deny menawarkan dirinya sendiri yang membawa pria itu ke polisi lantaran dirinya masih bersaudara jauh dengan Arif. Ketika itu, Arif sedang sakit gejala typus dan sedang berbaring di rumah mertuanya yang tinggal tak jauh dari lokasi penggerebekan.
Pukul 09.30 : Arif dibawa Deny ke aparat kepolisian. Di lokasi, Arif sempat diinterogasi singkat oleh polisi soal perkenalannya dengan Anwar. Arif mengaku mengenal pria itu di Depok. Anwar diketahui sering mengajak Arif jihad, namun Arif selalu menolak.
Pukul 09.35 : Deny diajak menjadi saksi penggerebekan di rumah yang sedang menjadi target Densus. Di dalam rumah 6 x 6 meter itu, Deny melihat ada berbagai macam buju jihad, sarung tangan karet, solder, baskom plastik besar, kabel, dan alat pengukur. Deny mengaku agak aneh melihat rumah yang baru saja ditinggal penghuninya itu. Pasalnya, Deny sama sekali tidak melihat adanya kompor, gelas, kasur, atau pun perabotan lainnya untuk hidup sehri-hari. Hanya segulung tikar tipis terlihat ada di ruang tengah.
"Mereka kan ngakunya meracik bubur bayi, tapi alat-alatnya nggak ada, kompor nggak ada. Gelas sampai kasur juga nggak ada di rumah itu. Kayaknya, itu rumah hanya untuk singgah saja," tutur Deny.
Pukul 11.30 : Tim Densus mulai meninggalkan lokasi dengan mengangkut beberapa kardus dari dalam rumah. Arif juga turut diboyong aparat kepolisian dan disebut-sebut akan diperiksa di Mapolresta Depok.
Pukul 19.00 : Garis polisi masih melingkar di sisi rumah yang menjadi lokasi penggerebekan. Sekitar lima orang aparat kepolisian juga berjaga-jaga di sekitar lokasi. Adapun, penggerebekan ini diduga terkait dengan kasus ledakan yang berasal dari sebuah rumah Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Jalan Nusantara Raya, Depok, Jawa Barat pada Sabtu (8/9/2012). Di dalam peristiwa itu, seorang pria mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Polisi menduga bahwa rumah itu dijadikan gudang persenjataan dan bahan peledak kelompok teror.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar