Hal itu sangat penting mengingat balita usia dua hingga tiga tahun sudah mengetahui perbedaan gender. Selain itu, mereka juga rentan terhadap iming-iming yang diberikan orang dewasa.
"Pada umur segitu anak mudah dikasih iming-iming, seperti permen, dilecehkan, kena pedofil, anaknya memang belum tahu apa-apa, paling sakit doang di kemaluannya, tapi begitu dia besar?" katanya.
Menurut dia, pelecehan seksual yang terjadi di masa kecil akan membawa trauma mendalam ketika anak tersebut dewasa. Pihaknya tidak setuju dengan anggapan anak kecil tidak perlu diberi pendidikan seks karena mereka tidak mengerti hal tersebut. "Anak kecil memang tidak mengerti seks, tapi orang dewasa yang memperkosanya bagaimana?" katanya.
Menurut dia, anak kecil harus diajari bagaimana cara menghargai tubuhnya dengan memberitahunya bahwa orang lain tidak diperkenankan menyentuh bagian-bagian tubuhnya. Sehingga bila suatu ketika orang lain menyentuh tubuhnya dan anak tersebut merasa tidak nyaman, anak tersebut bisa protes.
Zoya mencontohkan bila ada anak kecil datang melapor pada orangtuanya karena bagian tubuhnya disentuh orang lain, berarti anak tersebut telah memiliki kesadaran melindungi tubuhnya.
Kewaspadaan yang ditanamkan pada anak kecil diperlukan untuk mengantisipasi bila suatu saat terjadi pelecehan seksual, maka pihak-pihak yang mengetahui kejadian tersebut bisa segera menolong.
"Ketika anak, dicolek-colek dan dia melapor, berarti dia sudah punya kesadaran terhadap tubuhnya sehingga kalau sampai terjadi pelecehan seksual, dia akan lapor ke gurunya atau siapapun dan bisa langsung ditolong," katanya.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar