Kalangan industri termasuk industri tekstil menilai bahwa harga listrik di Indonesia sedikit lebih mahal dari pada Vietnam.
"Vietnam energi listriknya lebih murah dari kita, disana 6 sen/kwh sedangkan kita 8 sen/kwh, memang China jauh lebih mahal dengan 12 sen/kwh tetapi disana tingkat produktivitasnya berbeda dengan kita, di China 48 jam kerja, Indonesia hanya 40 jam kerja," ungkap Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat di Gedung Adhi Graha Jakarta, Jumat (21/9/2012).
Ade menilai kebijakan tersebut kurang adil karena listrik merupakan faktor utama dalam proses produksi industri tekstil. Kebijakan ini akan menimbulkan efek yang berkelanjutan dan cukup besar terhadap kenaikan harga jual produk jadi.
"Listrik jadi peranan penting dalam industri tekstil, memegang peranan 25% dari keseluruhan total produksi, jika harga listrik naik 15%, maka dipastikan akan ada kenaikan produk jadi sebesar 10%," katanya.
Pihak Industri pertekstilan memberikan usul kepada pemerintah untuk memberikan kebijakan insentif. Baginya hal itu akan mendorong kinerja industri pertekstilan ditengah goncangan yang mereka hadapi saat ini.
"Tahun depan UMP (upah minimum provinsi) juga naik berkisar antara 6-10%, ditambah listrik juga naik 15%, padahal kesempatan untuk mendapatkan pasar sangat besar tetapi hal ini diganggu oleh kebijakan dalam negeri," tutupnya.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar