Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Universitas Gadjah Mada, Oce Madril yakin jika kebijakan ini masih buntut dari rentetan perseteruan antara KPK dan Polri.
"Walaupun mereka saling membantah tapi kan kita bisa menilai. Kasus terbaru simulator SIM cukup memberikan pukulan bagi institusi Polri, saya kira mungkin ini menjadi salah satu penyebab kebijakan ini diambil oleh pihak kepolisian," kata dia, Minggu (16/9/2012).
Oce menangkap ada pesan yang ingin disampaikan Polri ke KPK. Jika sebelumnya, KPK tidak bisa semena-mena mengambil alih penyelidikan kasus simulator SIM, kini Polri bisa sewenang-wenang menarik penyidiknya.
"Pesan yang ingin disampaikan kami akan menarik semua, KPK akan menjadi lumpuh. KPK tidak ada apa-apanya kalau misalnya tidak ada polisi. Arogansi inilah yang ingin ditunjukkan polisi kepada KPK," jelasnya.
Kata Oce, penarikan penyidik dalam jumlah besar bisa saja kembali terjadi jika lembaga pimpinan Abraham Samad ini kembali mengobok-ngobok Korps Bahayangkara.
"Ini kan bukan pertama kali saja. Dulu pada kasus cicak vs buaya jilid pertama pernah terjadi ada penarikan bukan hanya pada level penyidik bahkan di direktur penindakan," pungkasnya.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar