Tradisi nama angkatan, Azhar menambahkan, berpijak pada tahun kelulusan. Biasanya, nama-nama yang digunakan adalah istilah-istilah pemberontakan, misalnya Separatis (angkatan 1992), Legiun (1993), Rezim (1994), Ekstrimis (1995), hingga Trabalhista (2012). Tradisi itu terus dilanggengkan hingga kini. “Saya angkatan 1995, Ekstrimis,” ujarnya.
Indoktrinasi itu sudah dimulai sejak kelas I (sekarang disebut kelas X). “Setiap kelas I belum boleh memakai nama angkatan, kecuali setelah dilantik. Kami memang didoktrin menggunakan nama angkatan dan harus mempunyai prestasi,” kata Azhar, yang menjadi bendahara di angkatannya ini.
Prestasi yang dimaksud, tutur Azhar, tentu saja bermakna menyerang sekolah lain. Dan dalam tradisi indoktrinasi itu, para senior biasanya juga menyebutkan sekolah-sekolah mana saja yang menjadi musuh mereka.
Menurut Azhar, pada masanya, musuh utama sekolahnya adalah SMA Negeri 1 Boedi Oetomo (Boedoet), STM Penerbangan (kini SMK 29 Jakarta), SMAN 46 Jakarta, dan SMA Negeri 82. Semuanya di Jakarta. “Dulu SMA 6 enggak ribut karena mereka pasrah. Makanya, bagi alumni, tawuran dengan SMA 6 itu sebenarnya penurunan,” ujarnya, bercanda.
Tradisi pembentukan angkatan, tutur Azhar, cukup gampang dilakukan di sekolahnya dulu, karena jumlah siswanya banyak. Saat dia sekolah, jumlah siswanya mencapai sekitar 1.940 orang. “Kelas satu saja 19 kelas,” katanya. “Tapi sekarang sepertinya jumlah siswanya diturunkan karena SMA 70 menjadi sekolah unggulan.”
Setiap angkatan memiliki “jenderal-jenderal”. Untuk kelas I, posisi jenderal ini masih mencari dan saling menunjuk. “Biasanya ada dua atau tiga orang yang gayanya sangar-sangar,” katanya.
Kelas I yang masih mencari ini biasanya dipersiapkan dan dilindungi siswa kelas III (sekarang disebut kelas XII). Mereka melakukan pengkaderan terhadap 75-90 orang di setiap angkatan sebelum berkonsentrasi menghadapi ujian akhir dan ujian masuk perguruan tinggi. Begitu kelas I berani menyerang sekolah lain, mereka sah disebut angkatan dan dilantik. “Pelantikannya kayak dibaptis,” ujarnya, terkekeh.
Adapun siswa kelas II (sekarang disebut kelas XI) posisinya serba tanggung. Mereka merasa masih ditekan oleh kelas III, tapi tak kuasa memperdaya kelas I lantaran dilindungi kelas III. “Makanya enggak aneh, yang sering tawuran kelas II karena butuh penyaluran.”
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar