"Mereka dinilai tidak bisa melakukan penjagaan, tidak profesional. Mereka membiarkan orang lain masuk ke ruangan," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Sabtu 27 Oktober 2012.
Empat polisi yang sedang diperiksa itu adalah Iptu HS (Perwira Pengawas), Brigadir ID (Polwan), serta Aipda S dan Aiptu Y (polisi yang menjaga Novi). Namun, keempat polisi ini dinilai tidak terbukti menyebarkan foto-foto Novi usai menabrak tujuh orang pada Kamis 11 Oktober 2012. "Sudah diperiksa tidak ada yang membagikan ke nomor lain," katanya.
Meski demikian, Rikwanto tidak menyangkal jika di antara polisi yang menjadi terperiksa itu menyimpan foto Novi. "Ada yang menyimpan gambar pas ada mobil ringsek-ringsek. Itu pelimpahan dari wartawan," katanya.
"Ada juga yang menyimpan
foto, tapi tidak diforward ke nomor lain, dan tidak sesuai dengan yang
tersebar diinternet itu," Rikwanto menambahkan.
Pemeriksaan keempat polisi itu masih dalam proses. Polda Metro, kata dia, belum menentukan hukuman kepada keempat polisi ini. "Sanksi yang paling ringan ya teguran. Kalau terberatnya mungkin tindakan disiplin hingga penundaan sekolah," katanya.
Diberitakan sebelumnya,
usai menabrak tujuh pengguna jalan, dua di antaranya polisi, Novi yang
hanya mengenakan bra dan celana dalam. Dia kemudian digelandang ke
Polsek Tamansari, Jakarta Barat. Dalam proses pemeriksaan tersebut, ada
yang mengambil gambar Novi saat histeris dan setengah sadar. Foto ini
kemudian menyebar di dunia maya. Beberapa foto Novi dalam kondisi nyaris
telanjang. Polda Metro Jaya pun bergerak mencari siapa yang pertama
kali mengambil gambar dan menyebarkan foto itu.Pemeriksaan keempat polisi itu masih dalam proses. Polda Metro, kata dia, belum menentukan hukuman kepada keempat polisi ini. "Sanksi yang paling ringan ya teguran. Kalau terberatnya mungkin tindakan disiplin hingga penundaan sekolah," katanya.
Kapolsek Tamansari, Komisari Polisi Maulana Hamdan menegaskan bahwa tidak ada perbuatan asusila pada Novi Amalia saat dibawa ke Polsek. Siapa yang menfoto juga belum jelas, karena banyak warga yang berkerumun saat itu.
"Saat datang sudah banyak yang berkerumun, baik masyarakat maupun media di tempat kejadian perkara (TKP)," kata Maulana Hamdan di Jakarta, Rabu 17 Oktober 2012.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar