Jurnaldunia.com - Tahun lalu, sejumlah pakar dari Inggris sepakat menyatakan ibuprofen sebagai obat yang lebih efektif menurunkan demam pada anak ketimbang paracetamol. Tapi tak disangka bocah laki-laki asal Inggris ini justru terkena sialnya.
Sekitar bulan September, Calvin Lock yang berasal dari Littleport, Cambridge ini diberi salah satu jenis ibuprofen dengan merk dagang Nurofen for Children oleh ibunya untuk mengobati flu yang dialaminya.
Malang bagi Calvin, lima hari kemudian ia terbangun di pagi hari dan mendapati telinganya terasa seperti terbakar dan muncul ruam di muka dan perutnya.
Padahal ayah Calvin, Robyn Moult mengaku ini pertama kalinya sang buah hati mengonsumsi obat ini, itupun karena sang ibulah yang memberikan obat itu kepada Calvin, tepatnya pada tanggal 21 September.
Awalnya ruam yang dialami Calvin dikatakan oleh tim dokter dari Addenbrooke's Hospital, Cambridge sebagai cacar air.
Namun pada kunjungan kedua, tahu-tahu Calvin didiagnosis menderita Stevens-Johnson Syndrome (SJS), reaksi alergi pada kulit yang parah dan langka akibat penggunaan obat tertentu.
Tak lama setelah itu kondisi Calvin juga memburuk dan akhirnya ia harus diopname ke ICU selama tiga hari.
Bahkan ketika Calvin dipindahkan ke unit luka bakar di Broomfield Hospital, Chelmsford, Essex, tim dokter mendiagnosis Calvin mengalami Toxic Epidermal Necrolysis Syndrome (Tens), bentuk lain dari SJS namun lebih parah.
Parahnya, menurut sang ibu, 65 persen kulit dan rambut yang ada di tubuh Calvin mengelupas dan hilang.
Beruntung setelah dioperasi, kondisinya membaik dan Calvin akhirnya bisa makan dan berjalan lagi. Kini Calvin pun telah kembali ke rumah meski tetap menjalani pengobatan.
"Tampaknya seseorang telah memukuli saya dan membuang saya dari jendela karena wajah saya penuh bekas luka. Tapi saya bahagia karena masih bisa hidup dan berkumpul bersama keluarga lagi," tandas Calvin seperti dikutip dari BBC, Senin (5/11/2012).
Ibu Calvin juga mengira putranya akan meninggal.
"Saya seperti baru saja menonton film horor. Melihat kulitnya mengelupas rasanya seperti mimpi buruk," katanya.
Menurut dokter yang menangani Calvin, Profesor Naguib Ed-Muttard dari Broomfield Hospital, kasus SJS dan Tens bisa dikatakan sangat jarang terjadi atau hanya ada dua dari tiga kasus untuk setiap jutaan orang di Eropa.
Direktur medis dari Nurofen for Children Inggris, Dr. Aomesh Bhatt juga mengungkapkan, "Kami terpukul mendengar kasus ini dan kami langsung menghubungi keluarga penderita untuk memastikan rincian lengkap dari kasus ini."
Lewat pernyataannya, produsen juga menambahkan bahwa reaksi alergi kulit akibat penggunaan ibuprofen dan obat pereda nyeri untuk anak-anak lainnya sebenarnya sangatlah jarang terjadi.
Kalaupun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, produsen telah mewanti-wanti agar penggunaan obat ini dihentikan dan penderita diminta segera menemui dokter jika gejala-gejala yang serupa dengan kasus Calvin muncul.
(Jurnaldunia.com - Situs Berita Online Internasional Tercepat Mengabarkan)
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
HOT INFO : Pasang Iklan Di Jurnaldunia.com Hanya Rp. 100 Ribu / Bulan Juga Dapat Bonus Gratis 2 Bulan
Hubungi Marketing Kami :
- Email : info@jurnaldunia.com
- HP : 085334315005 Atau 08990555990 (Telp./SMS)

0 komentar:
Posting Komentar