"Tentu pemakaman punya potensi yang cukup kuat sebagai atraksi wisata," ujar Dirjen Promosi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) M Farid, Rabu (1/5/2013).
Dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, wisata ke makam atau kuburan sudah dikenal sejak lama yang dikategorikan sebagai wisata ziarah. Namun sayangnya, pemerintah daerah terkait belum terlalu fokus dengan potensi wisata yang satu ini.
"Banyak sekali makam yang potensial jadi atraksi wisata menarik jika pemerintah daerah mau memperhatikan lebih lanjut mengenai hal tersebut," lanjut Farid.
Memang menurut Farid, wisata ziarah sudah dikenal sejak dulu. Tapi kebanyakan dari wisata tersebut identik dengan agama Islam dan di tanah Jawa. Padahal, wisata ziarah juga dilakukan di tempat lain, oleh masyarakat beragama lain.
"Komunitas masyarakat Tionghoa dan Kristiani juga kerap melakukan wisata ziarah lho," ungkap Farid.
Farid melanjutkan, masyarakat Kristiani melancong ke Flores untuk berwisata ziarah. Sedangkan komunitas masyarakat Tionghoa wisata ziarah ke Semarang, Bangka atau Pontianak. Mereka berwisata sekaligus melakukan ritual.
Sedangkan di Pulau Jawa sendiri, wisata ziarah yang terkenal adalah ziarah ke Makam Walisongo yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Para peziarahnya pun datang dari mana-mana.
"Yang tidak disangka, wisata ziarah ini juga dilakukan oleh wisatawan luar negeri, salah satunya dari Malaysia," lanjut Farid.
Di Riau, tepatnya di Pulau Penyengat, ada makam Raja Haji Ali, sang pencipta puisi Gurindam Dua Belas. Pulau tersebut sering didatangi wisatawan dari negara tetangga yang ingin menengok makam Raja Haji Ali tersebut. Wow!
"Asal dirawat, diberi tambahan pengetahuan mengenai tokoh yang disemayamkan di sana, bagaimana sejarah dan budaya pemakaman tersebut, serta difasilitasi yang memadai, wisata ini akan jadi sangat bagus," tutup Firman.

0 komentar:
Posting Komentar